Author: Yanti Heryanti

Trent Alexander-Arnold Ungkapkan Mimpinya Menjadi Kapten Liverpool

Bek sayap muda yang dimiliki oleh tim Liverpool, yaitu Trent Alexander-Arnold memiliki mimpi yang sangat besar untuk menjadi kapten Liverpool di masa mendatang. Hal inilah yang mampu menjadi motivasi dirinya untuk selalu bermain bagus dan konsisten bagi Liverpool.

Pada laga melawan Aston Vila (2-11-2019) Trent Alexander-Arnold akan melakoni laga ke 100 bagi Liverpool dengan umur yang masih muda, yakni 21 tahun dan penampilannya yang terus berkembang tentu mencapai impian untuk menjadi suksesor kapten Liverpool seperti Steven Gerrard tentu sangat mungkin diwujudkan.

Trend Alexander-Arnold merupakan pemain muda akademi Liverpool yang berhasil diorbitkan oleh pelatih Jurgen Klopp dan berhasil untuk menembus skuad utama. Walaupun jam bermain masih terbilang minim karena harus bersaing dengan pemain senior Nathaniel Clyne. Namun akibat dari seringnya cedera yang dialami oleh Nathaniel Clyne menjadikan Trent Alexander-Arnold menjadi pilihan utama dari Jurgen Klopp.

Perjudian yang dilakukan oleh pelatih Liverpool Jurgen Klopp terbilang berhasil untuk lebih berani memainkan Trent Alexander-Arnold. Hal ini terbukti dengan Liverpool yang berhasil menembus final Liga Champions 2 kali berturut-turut dan memenangkan salah satunya dengan mengalahkan Tottenham Hotspur di final liga Champions edisi 2019.

Dalam sebuah sesi wawancara dengan Reuters,  kelahiran Inggris 21 tahun silam ini mengutarakan niatnya untuk berangan-angan bisa menjabat sebagai kapten dari Liverpool suatu hari nanti. Meskipun begitu Ia tidak akan mempermasalahkan mengenai terwujud atau tidaknya impian tersebut karena seluruh kewenangan dalam pemilihan ban kapten adalah wewenang dari pelatih.

Namun Trent Alexander-Arnold berjanji akan selalu bersikap profesional dalam bermain untuk hasil terbaik yang bisa didapatkan oleh Liverpool. Segala impian yang diutarakan untuk menjadi kapten akan dijadikan motivasi besar supaya permainannya terus berkembang lebih dan lebih baik lagi ke depannya.

Trent Alexander-Arnold lahir di kota Liverpool pada tanggal 7 Oktober 1998, jika dihitung sekarang, maka usianya barulah menginjak 21 tahun. Sedari awal pemuda ini memang masuk pada akademi Liverpool dan mengklaim bahwa Liverpool adalah rumahnya dan tidak ada biat sedikit pun untuk pergi berseberang ke klub lain.

Karier pemuda dengan nomor punggung 66 ini terbilang sangat menjanjikan. Pada level domestik, duet bek sayap Liverpool antara Trent Alexander-Arnold dan Andrew Robertson telah memberikan 23 assist pada kompetisi 2018/2019 untuk mengantarkan Liverpool bertengger pada posisi ke 2 klasemen akhir. Sebagai individu, Trent Alexander-Arnold telah mencatatkan diri sebagai bek dengan assist paling banyak sepanjang 1 musim liga Inggris dengan torehan 12 assist pada musim 2018/2019.

Pada perhelatan liga Champions pun pemuda yang satu ini tidak bisa diremehkan. Dengan umur 21 tahun dan dipercaya sebagai punggawa bek kanan pada 2 final tentu menjadi nilai tersendiri di mata pelatih. Terlebih lagi aksi cerdasnya pada pertandingan semi final melawan Barcelona tentu tidak akan pernah dilupakan. Tendangan pojok yang diambil dengan cerdas saat pemain Barcelona kurang sigap mampu dikonversikan menjadi gol. Inilah momen bersejarah yang menjadikan Liverpool mampu mendapatkan kemenangan secara comeback terhadap Barcelona yang sebelumnya kalah pada leg pertama dengan skor 3-0.

Potensi yang sangat besar dari Trent Alexander-Arnold yang mampu ditemukan dan dipoles oleh Jurgen Klopp menjadikan kini ia masuk pada jajaran pemain timnas Inggris. Dengan  ditempa dengan panggung kompetisi yang sangat besar tentu dengan umur mudanya menjadikan mimpi dari Trent Alexander-Arnold untuk menjadi Kapten Liverpool bisa sangat mungkin terwujud.

Share

Skor Tipis 80 Persen, Juventus-nya Maurizio Sarri Susah Menang Telak

Juventus memang berhasil meraih hasil positif pada giornata ke-10 Serie A Liga Italia musim 2019-2020 ini dengan membekuk Genoa. Menjamu Genoa di Allianz Stadium pada Rabu, (30/10/19), hasilnya Si Nyonya Tua memetik kemenangan tipis 2-1 atas tamunya.

Meski begitu rupanya kemenangan tersebut tidak luput dari sorotan dan tidak sedikit para pendukung Juventus yang jantungnya dibuat berdebar-debar melihat bagaimana tim kesayangannya sempat bersusah payah untuk meraih kemenangan. Dari hasil statistik pertandingan ini mencatat jika tim besutan Maurizio Sarri ini sejatinya cukup mendominasi dengan 53% ball possession, serta membuat 27 tembakan meski hanya menghasilkan 11 shots on target dengan dua di antaranya berujung gol. Sedangkan statistik dari tim tamu adalah membuat total 8 tembakan dan tiga di antaranya mengarah ke gawang.

Bermain di depan pendukungnya sendiri, Juventus sempat mengalami kebuntuan di 30 menit pertama dan baru bisa mencetak gol di menit ke-36. Meneruskan umpan Rodrigo Bentancur, Leonardo Bonucci sukses melesakkan bola ke gawang Genoa yang dikawal oleh Ionu Andrei Radu. Tetapi keunggulan Juventus hanya bertahan selama empat menit saja lantaran Genoa mampu menyamakan kedudukan berkat gol Christian Kouame di menit 40.

Hingga babak pertama berakhir, skor sementara masih imbang 1-1 dan di babak kedua ini Juventus benar-benar kesulitan membobol gawang lawannya. Selain itu di babak kedua ini jalannya pertandingan semakin keras di mana wasit sampai mengeluarkan tiga kartu merah di mana satu kartu untuk tuan rumah.

Adalah Adrien Rabiot yang menerima kartu kuning keduanya di menit ke-87 sementara itu pemain Genoa, Francesco Cassata, diganjar kartu kuning yang kedua di menit ke-51 disusul dengan kartu merah yang diterima Federico Marchetti pada menit 57. Meski lebih unggul dalam jumlah pemain, Juventus tidak berhasil memanfaatkannya dan skor 1-1 ini masih belum berganti hingga menit ke-90.

Hingga akhirnya di masa injury time babak kedua tepatnya pada menit ke-93 inilah Juventus memastikan kemenangan mereka. Bermula dari pelanggaran yang dilakukan oleh Antonio Sanabria terhadap Cristiano Ronalo, membuat wasit menjatuhi hukuman penalti. Maju sebagai eksekutor, Ronaldo dengan dingin melesakkan bola ke gawang Genoa lewat titik putih sekaligus memastikan timnya menang 2-1.

Hasil ini menunjukkan jika Juventus dalam beberapa laga terakhirnya memang cukup kesulitan untuk mendapatkan kemenangan besar. Selain itu ini juga bukan kali pertama mereka meraih kemenangan dengan meraih skor tipis yang mana ini cukup membuat para pendukungnya dibuat geregetan. Ada catatan yang cukup menarik sejak Juventus dilatih Sari sejauh ini di musim 2019-2020 ini.

Setidaknya jawara bertahan Serie A musim lali ini sudah 10 kali memetik kemenangan di semua ajang dan hanya dua kali saja mereka berhasil menang dengan mencatatkan selisih lebih dari satu gol. Yaitu ketika menundukkan SPAL dua gol tanpa balas di pentas Liga Italia Serie A. Kemudian usai menundukkan Bayer Leverkusen di ajang Liga Champions yang berakhir dengan skor cukup telak 3-0.

Selanjutnya sebanyak delapan kemenangan mereka yang lain alias 80% dari raihan tiga angka di musim ini didapatkan dengan hanya mencatatkan kemenangan tipis yang cuma terpaut satu gol. Lihat saja di Liga Italia ketika mereka menang atas Parma dengan skor 1-0 kemudian Napoli dengan skor akhir 4-3, selanjutnya Hellas Verona, Brescia, Inter Milan serta Genoa yang semuanya berakhir dengan skor 2-1.

Di ajang Liga Champions juga Juventus mengalahkan Lokomotiv Moskva dengan hasil akhir 2-1 kemudian mereka mesti tampil habis-habisan hingga akhir kala menundukkan Parma, Hellas Verona serta Brescia juga Bologna. Sedangkan ketika menang atas Napoli, Inter Milan, Lokomotiv Moskwa dan Genoa ini Juventus baru bisa mencetak gol kemenangan mereka di saat-saat akhir.

Memang berkaca dari catatan tersebut ada sisi positifnya di mana terlihat betul kematangan mental juara yang dimiliki oleh Ronaldo dan kawan-kawan. Mereka sama sekali tidak menyerah dan terus berusaha untuk menggapai kemenangan hingga menit-menit akhir pertandingan. Tetapi di sisi lainnya, Juventus-nya Sarri ini seolah mengalami kesulitan dalam mengamankan hasil yang didapat dengan meraih kemenangan telak.

Sebagai pembanding, dari 35 kemenangan yang mereka dapatkan di musim lalu di seluruh ajang, hanya 17 kemenangan yang mereka dapatkan dengan selisih satu gol yang mana artinya itu hanya sebesar 48%. Rupanya problem yang tengah dihadapi timnya juga mendapat respons dari sang pelatih dalam komentarnya selepas laga kontra Genoa.

Seperti dilansir dari Football Italia dalam berita bola, eks pelatih Chelsea ini mengatakan jika timnya seharusnya bisa membuat lebih banyak gol. Menurutnya, timnya punya rata-rata yang cukup rendah dan bukan hanya dalam tembakan yang berbuah gol saja, tapi juga shots on target.

Susunan pemain inti kedua tim :

Juventus (4-3-1-2) : G. Buffon, J. Cuadrado, L. Bonucci, D. Rugani, A. Sandro, B. Matuidi (A. Ramset 61), R. Bentancur, S. Khedira (A. Rabiot 61), F. Bernardeschi (D. Costa 79), C. Ronaldo, P. Dybala

Genoa (4-2-3-1) : I. Radu, P. Ghiglione, C. Romero, C. Zapata, P. Ankersen, F. Cassata, L. Schone, G. Pandev (S. Gumues 68), K. Agudelo (I. Radovanovic 84), C. Kouame (A. Sanabria 81), A. Pinamonti

Share

Cara Baru Menyaksikan Liga Inggris

Semua masyarakat di Indonesia pasti sangat suka dengan sepak bola, apalagi jika liga sepak bola internasional sudah diadakan pasti akan rela bergadang hanya untuk menonton pertandingan tersebut. Liga pertandingan sepak bola itu ada banyak sekali ada salah satu liga yang sangat digemari adalah Liga Inggris, liga ini memang hanya untuk tim sepak bola dari Negara Inggris saja. Liga ini sudah berlangsung sejak dulu kala dan sampai saat ini yang masih menonton liga dan mencari tahu hasil Liga Inggris juga masih sangat banyak. Karena adanya perbedaan waktu di Indonesia dan di Inggris membuat jam tayang liga ini berbeda-beda dan untuk menontonnya itu tidak bisa lewat televisi saja. Ada cara lain untuk menonton liga ini yaitu secara live streaming.

Tips Menonton Liga Inggris Secara Streaming

Kemajuan teknologi memang sudah tidak usah ditanyakan lagi karena sudah sangat pesat perkembangannya, dulu jika mau melakukan sebuah kegiatan pasti akan sangat sulit karena tidak didukung dengan teknologi yang maju. Tetapi sekarang sudah berbeda sebab kegiatan apa pun baik itu kegiatan bekerja atau hanya untuk hiburan saja sudah sangat mudah karena adanya teknologi tersebut.

Salah satunya adalah menonton sepak bola, dulu mungkin untuk menonton harus dengan televisi tetapi sekarang sudah tidak lagi. Sebab sudah ada internet yang memungkinkan masyarakat menontonnya secara online, tetapi kadang jika menontonnya streaming juga ada kendalanya. Makanya perlu sekali tahu tips menonton yang benar dan berikut adalah tipsnya.

  • Tonton Di Situs Atau TV Online Yang Berkualitas

Menonton bola lewat online pasti akan membutuhkan situs bola atau situs TV online. Sekarang situs ini juga sudah mudah ditemukan karena jumlahnya memang sudah banyak, tetapi hati-hati jika memakai situs tersebut sebab akan dikenakan biaya yang cukup tinggi jika sudah berlangganan. Memang jika mau menonton pertandingan yang berkualitas seperti Liga Inggris perlu sekali mengeluarkan modal tetapi kadang harus perhitungkan juga modal yang dikeluarkan itu sesuai dengan apa yang didapatkan atau tidak.

Untuk menemukan situs yang benar-benar berkualitas caranya adalah dengan menggunakan layanan pencarian online, karena jumlahnya banyak maka layanan ini dibutuhkan. Sebab jika mengunjungi situsnya satu persatu akan membutuhkan banyak waktu, itu juga jika ketemu jika tidak maka percuma waktu yang sudah digunakan tadi. Setelah memakai layanan tersebut nanti akan langsung ketahuan mana situs terbaiknya dan biasanya situs ini berada di peringkat atas hasil pencarian tersebut.

  • Gunakan Internet Yang Sinyalnya Bagus

Setelah menemukan situsnya maka tinggal pilih saja waktu menontonnya, biasanya jadwal pertandingan bola sudah dicantumkan di situs tersebut. Lancar tidaknya proses streaming ini tergantung dari koneksi internetnya, jika koneksinya bagus maka menonton pertandingan tidak perlu buffering. Makanya pemakaian internet yang bagus itu sangat disarankan jika mau menonton di situs online, jika menonton secara streaming membutuhkan kuota yang cukup besar. Tetapi uang yang dikeluarkan ini sesuai dengan biaya yang harus dibayarkan jika langganan di TV berbayar, jadi tidak terlalu mahal juga dan patut untuk dicoba.

  • Pilih Situs Yang Menayangkan Pertandingan Ulang

Kadang tidak selamanya bisa melihat pertandingan dan hasil Liga Inggris sesuai jadwal pasti ada kalanya tidak bisa menonton karena ada kegiatan lain atau ada urusan mendadak. Jika yang bertanding adalah tim kesayangan pasti sangat disayangkan sampai tidak bisa mendukung tim tersebut dan tidak bisa melihat pertandingan cantik dari timnya. Makanya untuk tetap bisa mengikuti pertandingan tim andalan harus memilih situs streaming bola yang juga menampilkan pertandingan ulang. Jadi setelah pertandingan usai ada pertandingan ulangnya jadi tidak perlu kecewa tidak menonton karena masih tetap bisa menonton meskipun hanya pertandingan ulang saja.

Macam-Macam Situs Streaming Bola Di Indonesia

Untuk para pecinta sepak bola jangan takut jika tidak bisa melihat pertandingan bola di televisi karena sekarang di Indonesia juga ada TV online yang sama-sama menayangkan pertandingan tim sepak bola asal Inggris. Ada beberapa situs streaming ini yang memang disarankan untuk dikunjungi dan yang pertama adalah NOBARTV. Untuk yang ingin tontonan bola lengkap maka baiknya nonton di NOBARTV karena situs ini menyediakan tontonan Liga Inggris, Liga Champion sampai Liga 1 Indonesia.

Situs yang kedua adalah Football Live, jika mau lebih lengkap lagi maka datangilah situs ini sebab jumlah pertandingan yang akan ditayangkan di situs ini sangatlah banyak. Jadi wajar jika yang pertama kali datang akan kebingungan karena terlalu banyak pilihan yang dapat dicoba, untuk jadwal pertandingannya juga selalu dimuat di halaman utama  situs ini jadi tidak perlu mencarinya. Dengan hadirnya situs-situs seperti ini pecinta sepak bola jadi tidak merasa repot jika mau menonton dan tidak perlu lagi begadang untuk melihat hasil Liga Inggris.

Share

Bek Real Madrid Tak Bisa Bernafas Jelang Final Liga Champions

Pada berita bola kali ini datang dari punggawa Real Madrid, Marcelo, yang belum lama ini membagikan pengalaman menariknya jelang kick-off babak final ajang Liga Champions 2017/2018 silam. Secara terang-terangan bek kiri Los Blancos ini mengaku jika dirinya mengalami rasa cemas yang begitu hebat dan ini sebelumnya belum pernah ia alami di sepanjang hidupnya.

Seperti yang diketahui pada partai pamungkas tersebut Real Madrid berhasil keluar sebagai jawara usai mengandaskan Liverpool dengan skor telak 3-1 di NSK Olimpijs’kyj, Kiev, pada Minggu, (27/05/18) lalu. Kemenangan Real Madrid atas The Reds ini tidak bisa lepas dari dua blunder yang dilakukan oleh Loris Karius pada laga tersebut yang sempat ramai menjadi perbincangan publik.

Untuk jalannya permainan berlangsung cukup sengit di mana kedua tim mengakhiri pertandingan di babak pertama dengan skor imbang 0-0. Namun blunder fatal Karius berujung dengan gol pertama Real Madrid yang dicetak oleh Karim Benzema di menit ke-51. Hanya berselang empat menit, Sadio Mane mampu membobol gawang lawan dan mengubah kedudukan menjadi imbang 1-1.

Tetapi pada akhirnya Gareth Bale menjadi pahlawan kemenangan timnya usai memborong dua gol sekaligus ke gawang Liverpool. Bale mencatatkan namanya di papan skor masing-masing di menit 64 dan menit ke-83. Marcelo sendiri turut menyumbangkan dua assist untuk kedua gol Bale yang membuahkan trofi Liga Champions untuk El Real yang menang dengan skor akhir 3-1 atas tim asal Inggris tersebut. Ini menjadi pencapaian yang spesial bagi Real Madrid kala itu karena berhasil memenangi trofi Si Kuping Besar untuk yang ketiga kali secara beruntun.

Marcelo yang turut andil dalam mengantarkan kemenangan untuk timnya ini lantas membagikan pengalamannya pada laga yang super penting itu. Pemain yang bersangkutan mengatakan bahwa diirinya merasa begitu cemas sampai-sampai sempat berpikir juga soal kematian.

Kepada The Player’s Tribune, dirinya berkata jika sebelum final kontra Liverpool ada tekanan yang paling intens yang terjadi. Marcelo juga menambah bila ini mungkin bakal terdengar cukup aneh dikarenakan saat itu timnya telah memenangkan dua buah gelar Eropa (Liga Champions) secara berturut-turut.

Menurut dirinya tekanan seperti itu muncul sebab ia memiliki kesempatan untuk mengukir sejarah jadi benar dirinya sangat merasakan betul tekanan yang terasa pada laga final ini. Marcelo sampai mengakui sebelumnya belum pernah dirinya mengalami kecemasan yang seperti ini sampai dirinya sempat mau memanggil dokter. Tetapi niatnya tersebut ia urungkan karena dirinya khawatir nantinya dokter justru tidak mengizinkannya untuk bermain padahal dirinya 100% ingin tampil di laga final itu.

Dirinya juga menambahkan ada perasaan seperti sesuatu yang tertahan di dadanya dan ini bukan seperti perasaan grogi, melainkan ini merupakan sesuatu yang menurutnya berbeda. Perasaan yang dirasakan oleh Marcelo seperti tercekik malahan sehari sebelum pertandingan final digelar, dirinya tak bisa makan dan juga tak bisa tidur. Dengan tegas Marcelo mengatakan dirinya hanya memikirkan soal pertandingan (final) itu.

Katanya ketika telah berada di ruang ganti tim, ia merasa sulit sekali untuk bernafas tetapi kemudian dirinya mencoba memberikan sugesti kepada dirinya sendiri supaya tetap tenang. Namun saat dirinya berada di tengah pertandingan rupanya rasa sulit bernafas itu masih dirasakannya dan ia menambahkan jika memang harus mati pada pertandingan ini maka dirinya sudah pasrah.

Share

Kena Comeback Lawan, Barcelona Ekuador Senasib dengan Messi dkk Musim 2017-18

Momen comeback dalam sepak bola tentu menjadi momen yang sangat menyakitkan bagi pihak yang kalah. Bagaimana tidak sakit! Kemenangan yang ada di depan mata bisa berubah menjadi kekalahan secara dramatis pada waktu akhir. Sudah cukup banyak sejarah comeback dramatis tang terjadi dan salah satunya yang terjadi baru-baru ini dan dialami oleh klub sepak bola dari negara Ekuador bernama Barcelona Sporting Club.

Sebuah klub sepak bola biasanya dibuat dengan unsur kedaerahan seperti halnya Manchester United di Inggris dan AC Milan di Italia. Namun berbeda dengan Barcelona SC di Ekuador. Pembuatan dari klub sepak bola Barcelona Sporting Club tidak mengikuti nama tempat atau daerah yang ada di Ekuador. Seorang imigran yang berasal dari Barcelona bernama Eutimio Perez menjadi seorang yang berjasa untuk mendirikan klub sepak bola ini. Nama Barcelona disematkan menjadi nama klub karena terinspirasi kota kelahiran dari sang pendiri. Hal ini tentu menjadi sebuah kemiripan dengan sang saudara jauh FC Barcelona Spanyol yang sama-sama sebagai klub besar dan merajai daerahnya.

Kepemilikan nama dan logo yang mirip ternyata secara kebetulan juga bernasib serupa. Inilah yang terjadi antara Barcelona SC Ekuador dan sang empunya, FC Barcelona Spanyol. Masihkah Anda ingat dengan kejadian comeback fantastis AS Roma terhadap Barcelona di fase perempat semi final Liga Champion Eropa edisi 2017-2018?  Nah, kali ini hal tersebut terulang kembali dengan sangat mirip pada tahun 2019. Kali ini yang mengalaminya adalah klub sepak bola asal Ekuador dengan nama Barcelona SF.

Pada gelaran perempat final liga Champions tahun 2017-2018, FC Barcelona menghadapi wakil dari Italia, yaitu AS Roma. Pada leg pertama di Camp Nou, El Barca mampu menaklukkan AS Roma dengan skor 4-1 melalui sontekan Lionel Messi, Andres Iniesta, Pique, dan Luis Suares. AS Roma hanya mampu membalas 1 gol yang dilesatkan oleh Edin Dzeko. Dengan skor kemenangan yang cukup besar ini tentu menjadikan Barcelona percaya diri dan di atas angin untuk bermain leg 2 di Olimpico Roma.

Namun takdir berkata lain, kemenangan 4-1 yang sebelumnya diraih tidak bisa  membawa Barca melaju pada babak semi final. Aksi heroik yang ditujukan oleh AS Roma menjadikan pertandingan berkesudahan dengan keunggulan 3-0 melalui gol Edin Dzeko, Danielle D Rossi, dan Kostas Manolas. Dengan keunggulan 3 gol tanpa balas menjadikan agregat sama, yaitu 4-4. Namun berkat sistem gol tandang-kandang menjadikan AS Roma unggul dan berhak melaju ke fase semi final liga Champions.

Peristiwa yang sama juga dialami oleh sang saudara jauh Barcelona SC dari Ekuador. Momen comeback hadir pada saat gelaran Copa Ekuador dimana tim ini dikalahkan oleh klub Delfin. Jalannya comeback terbilang sama persis terjadi. Pada leg pertama yang digelar di kandang sendiri, Barcelona SC menang terhadap Delfin dengan skor 4-1.  Namun lagi-lagi nasib buruk menghampiri klub Barcelona KW ini. Delfin mampu menyamakan agregat gol menjadi 4-4 dengan kemenangan kandang 3-0. Merujuk pada sistem gol home-away, maka Delfin berhak melaju ke partai final Copa Ekuador.

Peristiwa comeback yang sama persis ini tentunya menjadi sebuah cerita menarik bagi klub Barcelona SF. Dengan kepemilikan nama dan logo yang sama dan peristiwa 1 tahun lalu yang terulang menjadikan klub Barcelona asal Ekuador ini merasakan sebuah kegagalan yang sama seperti halnya dialami oleh Lionel Messi dan kawan-kawan saat disingkirkan oleh AS Roma pada gelaran perempat Liga Champion.

Share

Robertson Ditaksir Madrid, Liverpool Tegaskan Takkan Menjualnya

Berita bola kali ini datang dari klub dengan pemilik gelar Liga Champions Eropa paling banyak, yaitu Real Madrid. Dikabarkan dari media Spanyol jika klub yang Bermarkas di Santiago Bernabeu ini mencari sosok bek kiri untuk menjadi penerus Marcelo yang dirasa sudah berumur.

Walaupun sudah membeli bek kiri muda Ferland Mendy, namun dengan umurnya yang masih muda tentu belum mendapatkan kepercayaan penuh dari sang pelatih Zinadine Zidane.  Untuk itu, pihak Real Madrid diberitakan tertarik untuk meminang bek kiri terbaik dari Liverpool, yaitu Andrew Robertson.

Real Madrid memang gencar untuk membenahi skuad mengingat setelah ditinggal mega bintang Cristiano Ronaldo, seolah Real Madrid telah kehilangan taringnya. Kegagalan demi kegagalan baik di Liga Champions ataupun liga domestik membuat mereka harus segera berbenah untuk bisa bersaing dengan Barcelona ataupun Atletico Madrid.

Salah satu sektor yang tentunya perlu menjadi perhatian khusus adalah bek kiri. Kini Madrid menyisakan Marcelo dan Nacho untuk mengisi bek kiri. Namun mengingat keduanya rentan dengan cedera,  tentu membuat Real Madrid perlu menambah amunisi bek kiri dengan mendatangkan Andrew Robertson.

Mungkin 2 tahun lalu tidak ada yang mengenal Andrew Robertson. Andrew Robertson dibeli oleh Liverpool pada musim 2017-2018 dari klub Hull City dengan nilai transfer sebesar 9 juta pounds. Awal dari permainan Andrew Robertson memang tidaklah baik. Robertson masihlah kalah bersaing dengan James Millner pada posisi bek kiri. Butuh waktu hingga 6 bulan untuk Robertson bisa dipercaya mengisi posisi bek kiri oleh pelatih Liverpool Jurgen Klopp.

Dengan arahan dari Jurgen Klopp, Robertson memang kini menjadi tipikal bek kiri pekerja keras yang tak kenal lelah untuk menjaga sisi kiri pertahanan Liverpool. Kapten dari timnas negara Skotlandia ini berhasil untuk memberikan assist sebanyak 11 kali selama gelaran Liga Inggris 2018-2019. 11 assist ini menyamai rekor assist dari pemain bertahan paling banyak di sepanjang liga.

Tentunya hal ini menjadikan Robertson tidak hanya pandai dalam menjaga pertahanan, namun juga rajin untuk membantu serangan. Hal inilah yang menjadikan Real Madrid ingin sekali merekrutnya karena memiliki kesamaan tipe dengan Marcelo yang sama-sama ganas baik bertahan ataupun menyerang.

Robertson telah menjelma menjadi salah satu bek kiri terbaik di dunia. Duetnya dengan Trent Alexander-Arnold telah mengantarkan klub yang dibelanya, yakni Liverpool untuk meraih titel paling bergengsi Liga Champions tahun 2019. Tentunya hal ini menjadikan nilai jualnya pasti melambung sangat tinggi.

Pada perhelatan Liga Champion, Robertson terbukti mampu meredam pergerakan dari Lionel Messi. Hal inilah yang tentunya dibutuhkan oleh Real Madrid mengingat Messi adalah faktor penghambat gelar yang sering ditemui baik di liga ataupun kejuaraan Liga Champions.

Namun keinginan dari Real Madrid untuk meminang Andrew Robertson nyatanya hanya akan bertepuk sebelah tangan. Surat kabar Defensa Central sendiri mengabarkan jika peluang dari Real Madrid untuk mendapatkan jasa bek kiri Liverpool ini sangatlah kecil karena Jurgen Kloop enggan untuk menjualnya.

Walaupun pada awal musim Jurgen Klopp rela untuk melepas Robertson kepada klub lain yang mau membayar 50 juta pounds, namun kini hal tersebut ditarik kembali. Performa yang terus menanjak menjadikan  Jurgen Klopp berujar jika tidak akan menjual Robertson hingga beberapa musim ke depan berapa pun nilainya. Jadi bisa dibilang jika peluang dari Real Madrid untuk mendapatkan jasa Andre Robertson tidak akan terlaksana pada bursa transfer musim ini dari situs berita bola terpercaya.

Share